Rabu, 19 Desember 2007

Kanvas Kehidupan

:nibbana

lukisan waktumu menyeret detik ke jemari
dimana hampa dan fana berebut menjadi kanvas
minta disapu oleh sejumput kuas
yang berlumur tintatinta kehidupan

19.12.2007, 12:13PM

Selasa, 11 Desember 2007

Puisi Tangisan Hujan

hujan menangis lagi
membuat kata tersedak
dalam bentang jeruji
dimana puisi menyeruak

11.12.2007, 01:30AM

Sebidang Ragu

di belahan dadamu
aku dapati sebidang ragu
dengan gemuruh melepuh
dan pasrah yang merapuh

11.12.2007, 12:48AM

Senin, 03 Desember 2007

Into The War

do you recognize
what i’ve been realise
even if you got the sun
it’s not meant to be like one

and if you feel pain
it’s only tip of the gain
then if you got angry
it’s only makes you wary

what do you think?
life’s meant to be broken?
heart to be pressing down?
or just ego to be fed?

rainy day, 09.12.2007, 02:00PM

Kamis, 09 Agustus 2007

Mal

malu ku terbungkus kumal
luku itu berawal dari mal
lam kan satukan hati ditengah mal
lu yang berapi dan tetap jadi mal

rawamangun, 09.08.2007, 22:11

Rabu, 08 Agustus 2007

Kat

belikat ku
srasa terikat
ketika lekat
mu mendekat
merekat
menyekat
ikat
kat
kat
kat
kat
kat
kataku apa?

rawamangun, 08.08.2007, 21:49

Jarak

mata mu
nafas mu
getar mu
bau mu
nyawa mu
melekat selama kau dalam diri ku

kini jarak mencacah tiap jengkal
mata mu
nafas mu
getar mu
bau mu
nyawa mu
yang kukenal selama kau melekat
…………………….selama kau mendekat
…………………….selama kau pekat

kat
kat
kat
rekat
memikat
walau penat
sarat
dengan karat
mengerat
berat…

kau berjarak
dan aku sekarat

rawamangun, 08.08.2007, 20:47

Rabu, 04 Juli 2007

Monolog Pagi

aku adalah embun
berkeras memeluk kebun
dalam terik Mu nan rimbun

milleniacafe, 04.07.2007, 12:25

Selasa, 29 Mei 2007

Senja dan Jingga

mengunjungi senja
saat ia dipeluk jingga
sebelum akhirnya selimut malam
menyekap dalam sekelebat gumam

menunggu jingga
dari balik jendela hati
seperti melata jiwa
dalam benak sepi

milleniacafe, 29.05.2007, 16.33

Sabtu, 26 Mei 2007

Hujan Dalam Kelambu

debu air beterbangan di terjang deru nafas bersahutan menahan segala dahaga agar tidak tumpah ruah ke danau yang terbentuk jika kekeringan melanda kehampaan seolah akan abadi.

sesekali hembusan udara berpapasan demi sejumput kekuatan untuk kembali menjalani ritual dalam kelambu yang sulit untuk di elakkan, karena hasrat dan cinta kadang berpagut sedemikian kuatnya hingga lilitan akar batang jati pun tak mampu mengikatnya.

pada penantian penuh degup, akan sampai di puncak tertinggi dimana kau bisa melihat titik titik air pada ujung rambutnya yang membaur dengan nafas memburu serta menghela seperti segalanya telah terlewati, terobati dan terpenuhi.

lalu seikat hasrat melenggok berlagu menapak di jalan yang kelabu membuai asa nan meragu hingga pulih dalam lugu, akhirnya semua sirna, berwarna, berlabuh dan terbenam dibawah hujan dalam kelambu.

26.05.2007, 02:22PM

Kamis, 24 Mei 2007

Membunuhmu

sesiap dadamu kau sorong
tak sanggup jari ini menekuk
membunuhmu semakin jauh
melayang di terpa angin rasa

24.05.2007, 12:01AM

Candu

apa yang ada dalam cawan?
magma atau malam berawan
candu itu mulai mencokok
seperti cinta yang menohok

24.05.2007, 12:01AM

Sejumput

sejumput aroma tubuhmu
selalu tersimpan rapi
dalam lipatan saku baju
tepat di jelujur jantungku

24.05.2007, 12:01AM

Rabu, 16 Mei 2007

Gincu dan Belacu

gincu dan belacu mengadu pacu
terawang kelam memendam lagu
kik kuk kik kuk cengkeraman candu
melawan hawa beradu gagu

millenianetcafe, 16.05.2007, 14:21

Senin, 14 Mei 2007

Seikat Rambut, Sekerat Hati

Seikat rambutmu terkepal dalam genggaman hayal ku
dengan harapan bayang mu yang selama ini muncul berubah pejal
dan kembali memelukku pada saat tekanan
dan rindu semakin berat menghimpit

Aku menjadi kecil,
sekecil saat kupecahkan piring kesayangan mu
walaupun sudah kau larang berkali-kali

Aku menjadi kecil,
sekecil saat hatiku dicuri, dicampakkan
dan kau meredamnya dengan pelukkanmu
Sekerat hati kini menggigil

Tak ada lagi peluk redam mu
Hanya harap yang makin menepi
Dan menunggu dengan cemas ku

ratuplaza, 14.05.2007, 16:09

Rabu, 04 April 2007

Kita Bertiga

Kini tinggal kita bertiga. Kau, aku dan jasad waktu yang tersisa dalam penantian panjang yang tak berkesudahan. Kelelahan menggurat wajah sepanjang pembuluh darah yang bisa kau sebut. Dan itu semua membekaskan jejak yang dalam.

“Oh, aku lelah….Akankah ini semua berakhir?” ucapmu sambil menahan sesengguk nafas yang makin lama makin membiru. “Sabar sayangku, yakin lah bahwa tidak akan lama lagi semua ini berakhir.” Kataku dengan tatapan kosong yang jelas tergambar kebimbangan yang amat sangat mencekik.

Sementara itu disamping kita berdua terbujur jasad waktu diselimuti lembar-lembar asa bercampur getah-getah kenyataan yang getir sebagai perekat agar tubuh yang makin membiru itu akan tetap hangat dan pada saatnya nanti akan bangkit memberikan harapan yang berwarna.

“Apa kau yakin dia akan kembali bersama kita?,” lirih mu, dengan sembab yang memeluk erat seolah tak ingin lepas dari gelayut wajah yang menyendu. “Ya sayang, dia akan kembali pada kita dan memberi harapan-harapan seperti apa yang aku janjikan dulu pada mu.” Semburat hangat dari pelukanku mengatur aliran nafas mu.

Kini tinggal kita bertiga. Kau, aku dan jasad waktu yang tetap terdiam dalam pergulatan asa dan batin yang tak berkesudahan. Kata demi kata berjatuhan. Asa demi asa terucapkan. Hanya untuk melewati hari-hari dimana tak kan pernah ada yang menghampiri kita bertiga

rawamangun, 04.04.2007, 01:04AM

Rabu, 21 Maret 2007

Kwatrin Kematian Senja

/1/
selarut senja dijemput malam
jingga nya menyusup ke ufuk barat
perlahan ditarik nya selimut kelam
hingga habis langit tertelan karat

/2/
bulan pun berteriak senang
karena senja direguk regang
sewaktu hunus mulai terentang
sekejap di hujam dengan tegang

/3/
gelap membungkus jasad senja menggelepar
dengan seputih kafan bersemburat jingga
hanya itulah sisa jiwa yang terpapar
dalam kelam nya relung nan merongga

/4/
selarut malam melepas gumam
jingga nya menggumpal di ufuk timur
perlahan dilepas nya selimut kelam
hingga langit bisa mulai berjemur

rawamangun, 21.03.2007, 0:31

Minggu, 11 Maret 2007

Penjahit Luka

pagi ini penjahit itu datang
menggelantang luka terbuka
yang perih dan menantang
jarumnya menelisik kulit
menembus daging yang meradang
“lukamu basi” ujarnya getir
terlalu besar galau menentang
yang hendak kau kubur
di bawah kulit terentang
menyemai ulatulat dosa
dengan buaian luka berdendang

esok pagi penjahit itu datang lagi
menggandeng luka di sampingnya
yang sudah dipinang sejak malam
meninggalkan bekas jahitan membiru
galau pun menyelipkan gumam
“tak lagi kurasa perih” serunya
telah usai persemaian kelam
ulatulat pun beterbangan
dengan sayap berlarik suram
tinggalkan jiwa dengan gigilnya
berselimut angin bertabir garam

ps.sunangiri, 11.03.2007, 11:27AM

Senin, 05 Maret 2007

Pertempuran Dendang

: jazz

intro lantunkan jiwa tembus kaku
menyeret hangat nada mayor terbuyar
tambahkan pad dan string yang beku
maka mulailah petualang berlayar

pertempuran dendang mengguyur hati
nada berkejaran saling melompati
sesekali mereka usik asik menjalin
sebelum di akhir tikaman bersalin

sayatan dawai mencekik teriak
di susuri debam drum menggelegak
piano menyusun denting beriak
buat mulut mengundang decak

di coda mereka berkumpul
satu menyatu lain menyusul
semilir bunyi meriuh rendah
akhiri lagu dengan meriah

pondokindah, 05.03.2007, 10:47

catatan:
intro: bagian pembuka pada lagu
mayor: sususan chord yang bersifat riang
pad: suara latar pada sebuah aransemen lagu
string: suara alat gesek yang juga dipakai sebagai latar
drum: dram / perkusi utama penjaga ketukan
coda: bagian akhir/penutup pada lagu

Tarian 4 Dawai

: marcus miller

setubuhi batang leher terentang
dengan belaian jari yang menyentak
serempak dekap ibujari mendentang
dekapan jemari meronta sontak

dendang menyeret telinga pada lagu
mencabik dada pukulan sebelanga
empat dawai mencuri hati terlugu
susun rapi nada dalam bunga

magis mu nyalakan api ruh
kelana imaji mengalir keruh
terpaan dentum dawai bergetar
guncang kalbu kau pendengar

cumbu di panggung bertahta
dengan untaian empat temali
yang kau sandang di bahu kata
menyengat jiwa bersama jeli

*sajak ini tercetus setelah menonton penampilan the living legend bassist Marcus Miller di Java Jazz*

pondokindah, 05.03.2007, 10:33