Jumat, 14 Maret 2008

Terpanah Busur Keparat

Walaupun tinggal di atas sana, mentari bukanlah sosok yang biasa mendidihkan apa saja yang lewat didepannya. Ia tahu betul menjaga rasa dan hawa jiwa sekitar bumi ini. Dan juga ia tahu bagaimana menghela sosok keran api yang ia jaga sejak berjuta-juta waktu lamanya dimana tak sebentuk roh pun mampu menjejas jejaknya. Bahkan pantulan sekeping cermin samudera pun cukup jelas menggambarkan rupa gemerlap silau nan memekakkan itu.

Tak satu jiwa pun di dunia ini menduga bahwa sejak kemarin pagi matahari tak beranjak bangun dari dalam kantung kabut yang terkumpul dari bulir-bulir keruh nya jiwa dan pula putik-putiknya menyebarkan aroma karat yang menyengat seolah telah ribuan tahun terendam dalam air laut mati. Ada apa gerangan? Tak cukup hanya tanya yang terucap. Karena darah serupa magma panas menyengat membawa api amarah muncul berjingkat menguak selimut kabut dan mulai menghujani bumi dengan serapah laknat.

Kami tak tahu lagi apa yang harus kami perbuat, pabila mentari terpanah busur keparat, dan bara magma mulai menyelimuti hati.

Kami tak tahu lagi apa yang harus kami perbuat, selain mencoba mengubur dendam agar tidak berbuah dendam.

14.03.2008, 01:46AM

Tidak ada komentar: