Kamis, 13 Maret 2008

Dipinggir Asa

Ini sudah hari kesekian kami bergelayut di pinggir asa yang setiap hari kau sisipkan ke dalam rusuk kami berdua. Tergolek saudara tua ku dalam kungkungan selimut duka yang berkepanjangan dan hampir saja ditinggal jiwa yang tlah lelah. Dan pula kobaran dengki itu tetap merajam sampai tubuh ini tak berbentuk walau hanya untuk menyerap hidup dari unsur hara terluar sekalipun. Akhirnya sisipan asa itu jua lah yang terus menerus menyambung nyawa kami, di atas debu-debu laknat panas berserakan di pondokan itu.

Ini sudah hari kesekian kami berandai-andai, apa yang akan terjadi bila pintu itu terbuka dan apakah ada sejumput hangat yang bisa kami pergunakan untuk mengganti gulungan kain kumal penuh resah karena tiap hari kami lilitkan pada hati kami berdua. Hanya sekedar berangan karena penantian akan turun nya hujan sudah sangat sulit kami percaya lagi. Hari demi hari, detik demi detik, makin punah pundi-pundi nadi yang bisa menjamin kami tetap bisa berdarah-daging sampai saat ini. Dan yang bisa kami lakukan sekarang hanyalah bergelayut di pinggir asa yang setiap hari kau sisipkan ke dalam rusuk kami berdua.

13.03.2008, 07:32PM

Tidak ada komentar: