Sabtu, 22 Maret 2008

Namamu

aku ingin menulis namamu
dalam sebungkus harap
dan seuntai cinta
lalu kutitipkan pada bulan
agar bisa ia letakkan dipelukmu
saat kau terlelap dalam mimpi

aku ingin mengukir namamu
dalam sebongkah hati
yang terbenam di samudera
sehingga tak seekor ikan pun
bisa mencuri dan membawanya
saat kau tertidur dalam pelukku

22.03.2008, 03:12AM

Rindu

setiap malam aku mati
jeri sulit tertahankan
hujan tetap tak berhenti
menusuk halus membelah raga

setiap detik aku berhenti
di persimpangan arteri dan vena
menunggu butiran darah berlari
yang sudi membawa hati terpana

setiap kau peluk tubuh ini
ada sebentuk cahaya merekah
yang meronta dalam dada
berteriak, “aku rindu kau”

22.03.2008, 02:52am

Jumat, 14 Maret 2008

Terpanah Busur Keparat

Walaupun tinggal di atas sana, mentari bukanlah sosok yang biasa mendidihkan apa saja yang lewat didepannya. Ia tahu betul menjaga rasa dan hawa jiwa sekitar bumi ini. Dan juga ia tahu bagaimana menghela sosok keran api yang ia jaga sejak berjuta-juta waktu lamanya dimana tak sebentuk roh pun mampu menjejas jejaknya. Bahkan pantulan sekeping cermin samudera pun cukup jelas menggambarkan rupa gemerlap silau nan memekakkan itu.

Tak satu jiwa pun di dunia ini menduga bahwa sejak kemarin pagi matahari tak beranjak bangun dari dalam kantung kabut yang terkumpul dari bulir-bulir keruh nya jiwa dan pula putik-putiknya menyebarkan aroma karat yang menyengat seolah telah ribuan tahun terendam dalam air laut mati. Ada apa gerangan? Tak cukup hanya tanya yang terucap. Karena darah serupa magma panas menyengat membawa api amarah muncul berjingkat menguak selimut kabut dan mulai menghujani bumi dengan serapah laknat.

Kami tak tahu lagi apa yang harus kami perbuat, pabila mentari terpanah busur keparat, dan bara magma mulai menyelimuti hati.

Kami tak tahu lagi apa yang harus kami perbuat, selain mencoba mengubur dendam agar tidak berbuah dendam.

14.03.2008, 01:46AM

Kamis, 13 Maret 2008

Dipinggir Asa

Ini sudah hari kesekian kami bergelayut di pinggir asa yang setiap hari kau sisipkan ke dalam rusuk kami berdua. Tergolek saudara tua ku dalam kungkungan selimut duka yang berkepanjangan dan hampir saja ditinggal jiwa yang tlah lelah. Dan pula kobaran dengki itu tetap merajam sampai tubuh ini tak berbentuk walau hanya untuk menyerap hidup dari unsur hara terluar sekalipun. Akhirnya sisipan asa itu jua lah yang terus menerus menyambung nyawa kami, di atas debu-debu laknat panas berserakan di pondokan itu.

Ini sudah hari kesekian kami berandai-andai, apa yang akan terjadi bila pintu itu terbuka dan apakah ada sejumput hangat yang bisa kami pergunakan untuk mengganti gulungan kain kumal penuh resah karena tiap hari kami lilitkan pada hati kami berdua. Hanya sekedar berangan karena penantian akan turun nya hujan sudah sangat sulit kami percaya lagi. Hari demi hari, detik demi detik, makin punah pundi-pundi nadi yang bisa menjamin kami tetap bisa berdarah-daging sampai saat ini. Dan yang bisa kami lakukan sekarang hanyalah bergelayut di pinggir asa yang setiap hari kau sisipkan ke dalam rusuk kami berdua.

13.03.2008, 07:32PM

Selasa, 04 Maret 2008

Staring at The Moon

staring at the moon
wondering someone do the same
did you?

04.03.2008, 12:56PM