Kini tinggal kita bertiga. Kau, aku dan jasad waktu yang tersisa
dalam penantian panjang yang tak berkesudahan. Kelelahan menggurat wajah
sepanjang pembuluh darah yang bisa kau sebut. Dan itu semua membekaskan
jejak yang dalam.
“Oh, aku lelah….Akankah ini semua berakhir?” ucapmu sambil menahan
sesengguk nafas yang makin lama makin membiru. “Sabar sayangku, yakin
lah bahwa tidak akan lama lagi semua ini berakhir.” Kataku dengan
tatapan kosong yang jelas tergambar kebimbangan yang amat sangat
mencekik.
Sementara itu disamping kita berdua terbujur jasad waktu diselimuti
lembar-lembar asa bercampur getah-getah kenyataan yang getir sebagai
perekat agar tubuh yang makin membiru itu akan tetap hangat dan pada
saatnya nanti akan bangkit memberikan harapan yang berwarna.
“Apa kau yakin dia akan kembali bersama kita?,” lirih mu, dengan
sembab yang memeluk erat seolah tak ingin lepas dari gelayut wajah yang
menyendu. “Ya sayang, dia akan kembali pada kita dan memberi
harapan-harapan seperti apa yang aku janjikan dulu pada mu.” Semburat
hangat dari pelukanku mengatur aliran nafas mu.
Kini tinggal kita bertiga. Kau, aku dan jasad waktu yang tetap
terdiam dalam pergulatan asa dan batin yang tak berkesudahan. Kata demi
kata berjatuhan. Asa demi asa terucapkan. Hanya untuk melewati hari-hari
dimana tak kan pernah ada yang menghampiri kita bertiga
rawamangun, 04.04.2007, 01:04AM