adalah kanvas hati
tempat aku melukismu
kala rindu memenjaraku
09.09.2008, 01:59AM
Selasa, 09 September 2008
Sabtu, 06 September 2008
Bait Kata di Pantai Hakok
Aku menemukan jejak yang kukira tenggelam dalam bebatuan pantai
Hakok. Masih terbungkus dedaunan fana yang tak lekang waktu sehingga
baitbait kata yang tertoreh diantaranya pun masih jelas bisa terbaca.
Masih saja getaran ombak mencoba menarikku untuk ikut dalam kerajaan air yang biru dan dingin. Tetapi aku telah lelah bermain kata dan waktu. Yang kuinginkan sekarang adalah membuang rasa yang pernah singgah dan mengharubirukan jagat tempat ku tinggal. Dan asa demi asa akan selalu kujaga agar tetap ada alasan untukku tinggal di sini selama lumut di bebatuan pantai masih menghijau.
Aku menemukan derai tawa yang kukira tak mungkin lagi akan kudapati di sela bebatuan pantai Hakok. Walau masih terbungkus dedaunan fana yang tak lekang waktu namun aku tak peduli karena baitbait kata masih bisa ku torehkan diantaranya sehingga bila kau datang nanti kau pun akan bisa membacanya dengan jelas.
06.09.2008, 10:37AM
Masih saja getaran ombak mencoba menarikku untuk ikut dalam kerajaan air yang biru dan dingin. Tetapi aku telah lelah bermain kata dan waktu. Yang kuinginkan sekarang adalah membuang rasa yang pernah singgah dan mengharubirukan jagat tempat ku tinggal. Dan asa demi asa akan selalu kujaga agar tetap ada alasan untukku tinggal di sini selama lumut di bebatuan pantai masih menghijau.
Aku menemukan derai tawa yang kukira tak mungkin lagi akan kudapati di sela bebatuan pantai Hakok. Walau masih terbungkus dedaunan fana yang tak lekang waktu namun aku tak peduli karena baitbait kata masih bisa ku torehkan diantaranya sehingga bila kau datang nanti kau pun akan bisa membacanya dengan jelas.
06.09.2008, 10:37AM
Tarian Langit
saat pagi menjelang
sejumput awan menjemputku
dengan dua bilah sayap membentang
serta segenggam rasa yang bergemuruh
tak seperti kemarin
angin kiranya tahu
kami ingin bercumbu
dihembuskannya kelam
dengan sekelebat petir
dan jeri makin membumbung
ketika dua tetabuhan bersatu
raungan rasa saling cengkeram
gejolak langit tak tertahankan
dan embun pun mulai meleleh
saat sore menjelang
kelebatan jingga mengantarku
dengan dua kelopak mata nan sayu
serta segenggam rasa yang mereda
06.09.2008, 01:45AM
*terima kasih buat kang Adi Toha untuk judul puisi ini*
sejumput awan menjemputku
dengan dua bilah sayap membentang
serta segenggam rasa yang bergemuruh
tak seperti kemarin
angin kiranya tahu
kami ingin bercumbu
dihembuskannya kelam
dengan sekelebat petir
dan jeri makin membumbung
ketika dua tetabuhan bersatu
raungan rasa saling cengkeram
gejolak langit tak tertahankan
dan embun pun mulai meleleh
saat sore menjelang
kelebatan jingga mengantarku
dengan dua kelopak mata nan sayu
serta segenggam rasa yang mereda
06.09.2008, 01:45AM
*terima kasih buat kang Adi Toha untuk judul puisi ini*
Jumat, 05 September 2008
Serpihan Tajam
: utk Mitut
jangan biarkan lelah mencuri potongan semangat
yang telah kau jaga selama nafasmu tumbuh merambah
menjalar ke seluruh hamparan padang kehidupan itu
tak ada jalan lain selain merobek dan mengeluarkannya
dengan tangan kepingkeping harapan dalam tubuh
walau keperihan terus melilit dan semakin menjerat
bangunan fana tak cukup kuat untuk bisa kau tangisi
titik-titik rasa harus kau bungkus dan tanam dalam-dalam
hingga tak sepercik perih pun akan bisa mendekatimu
mulai saat ini serpihan tajam akan menjadi teman baikmu
dan kuharap segala harapan yang telah sirna akan kembali
mengendap-endap dan memelukmu dari belakang
jangan biarkan gundah mencuri sekerat suka mu
karena sekelilingmu hanyalah bayangan semu
dan kita semua hanya mampu bertamu
dalam hamparan padang kehidupan itu
05.09.2008, 03:17AM
jangan biarkan lelah mencuri potongan semangat
yang telah kau jaga selama nafasmu tumbuh merambah
menjalar ke seluruh hamparan padang kehidupan itu
tak ada jalan lain selain merobek dan mengeluarkannya
dengan tangan kepingkeping harapan dalam tubuh
walau keperihan terus melilit dan semakin menjerat
bangunan fana tak cukup kuat untuk bisa kau tangisi
titik-titik rasa harus kau bungkus dan tanam dalam-dalam
hingga tak sepercik perih pun akan bisa mendekatimu
mulai saat ini serpihan tajam akan menjadi teman baikmu
dan kuharap segala harapan yang telah sirna akan kembali
mengendap-endap dan memelukmu dari belakang
jangan biarkan gundah mencuri sekerat suka mu
karena sekelilingmu hanyalah bayangan semu
dan kita semua hanya mampu bertamu
dalam hamparan padang kehidupan itu
05.09.2008, 03:17AM
Langganan:
Komentar (Atom)