Selasa, 13 November 2018

Alamat

Aku menemukan dirimu dalam buku alamat tua

Mengapa kau tak bilang?
Kalau kau tinggal di situ selama ini

Bintaro, 13.11.2018 07:57AM

Selasa, 21 Oktober 2008

Mereka Hidup Di Kepala

/1/
kau yang tlah mati, tak benarbenar mati
tapi hanya sembunyi di dalam peti
di sudut kepala bermain sepi

      kau yang tlah lari, tak benarbenar lari
      tapi hanya berkelit dari jeri
      di lembah kelam berharap letih

/2/
kau pikir kau asap,
menggelantang rasa
berharap lepas

      kau pikir kau raga
      tak lekang kan raba
      berharap lega

/3/
kau yang tlah mati, tak bisa menari
karena rasa dan raga tak lagi berduri
dekati surga tanpa bisa kau raba

21.10.2008, 03:46PM 
*sajak ini dibuat berbarengan dengan lagu yang berjudul 42 (Coldplay) didengarkan, dan saya yakin sajak ini terpengaruh olehnya*

Rabu, 15 Oktober 2008

Di Ambang Terbang

(kami dengar Pain of Salvation memainkan Pluvius Aestivus)

seperti gamang jejak pertama

seperti bumi kecil yang gempa

getar getir

kosong pada skala tuan richter

      pada awal denting meredup

      seperti runcing kabut menghasut

      derap petir bergema lembut

seperti leleh hujan batu

menyentuh pucuk-pucuk ngilu

yang telah meluap sedalam dada …

      kelam seiring melebam

      meretas bilahbilah besi

      menyeruput rasa sedalam surga

15.10.2008, 01:55
*kolaborasi Hasan Aspahani & bangwin*

Selasa, 14 Oktober 2008

Kunang-Kunang

matahari kecil
dalam tubuhmu
menggigit mata
menuntun arah

mata kecil
dalam kepalaku
meraba angin
mancari terang

14.10.2008, 05:06PM

Sabtu, 11 Oktober 2008

Seorang Lelaki dan Sejumput Renta

Seorang lelaki makin akrab dengan sejumput renta yang sejak awal ia semai dalam kantung-kantung berpupuk subur tanpa sedikitpun ia sadar bahwa umur dan nafasnya semakin lama semakin merasa nyaman atas kehangatannya dan lalu sedikit-sedikit mencuri waktu hanya untuk bercengkerama dalam kantung renta itu.

Sampai satu saat ia sadar ketika otaknya mulai sedikit demi sedikit membangkang yang mengakibatkan kekuatan dirinya sebagai penguasa tunggal bangunan tubuh yang dipercayakan olehNYA untuk dipergunakan sebaik-baiknya mulai terancam. Begitu lambat reaksi kaki ketika ia ingin melangkah, dan ia curiga bahwa andil otak dalam pembangkangan ini pasti ada sehingga ia mulai tak percaya, tak yakin dan akhirnya tak jalan-jalan.

Di satu sore yang hangat, ketika telah berhasil lelah ia tepis setelah hampir seharian ia mencoba bernegosiasi dengan kaki, tangan, dada, pinggang, dan otak; ada yang aneh, keheningan disertai beban mengganduli tubuhnya. Dingin menjalari urat-urat kaki yang seolah terpaku pada tempat tidur dan mulai merambati satu persatu anggota tubuhnya. Sampai akhirnya ia sadar, pembangkangan telah berubah menjadi pemberontakan. Sorak sorai otak dalam singgasana renta mulai terdengar. Dan ia hanya ditemani oleh sepasang mata yang juga sudah mulai menggigil.

Seorang lelaki yang tadinya sangat akrab dengan sejumput renta mulai menyesal. Karena kini renta yang berkuasa dari dalam kantung-kantung berpupuk subur ingin menyeretnya kembali ke alam. Sedang masih sederet daftar belanja yang harus ia selesaikan.

11.10.2008, 11:54 AM

Selasa, 09 September 2008

Langit

adalah kanvas hati
tempat aku melukismu
kala rindu memenjaraku

09.09.2008, 01:59AM

Sabtu, 06 September 2008

Bait Kata di Pantai Hakok

Aku menemukan jejak yang kukira tenggelam dalam bebatuan pantai Hakok. Masih terbungkus dedaunan fana yang tak lekang waktu sehingga baitbait kata yang tertoreh diantaranya pun masih jelas bisa terbaca.

Masih saja getaran ombak mencoba menarikku untuk ikut dalam kerajaan air yang biru dan dingin. Tetapi aku telah lelah bermain kata dan waktu. Yang kuinginkan sekarang adalah membuang rasa yang pernah singgah dan mengharubirukan jagat tempat ku tinggal. Dan asa demi asa akan selalu kujaga agar tetap ada alasan untukku tinggal di sini selama lumut di bebatuan pantai masih menghijau.

Aku menemukan derai tawa yang kukira tak mungkin lagi akan kudapati di sela bebatuan pantai Hakok. Walau masih terbungkus dedaunan fana yang tak lekang waktu namun aku tak peduli karena baitbait kata masih bisa ku torehkan diantaranya sehingga bila kau datang nanti kau pun akan bisa membacanya dengan jelas.

06.09.2008, 10:37AM

Tarian Langit

saat pagi menjelang
sejumput awan menjemputku
dengan dua bilah sayap membentang
serta segenggam rasa yang bergemuruh

tak seperti kemarin
angin kiranya tahu
kami ingin bercumbu
dihembuskannya kelam
dengan sekelebat petir
dan jeri makin membumbung

ketika dua tetabuhan bersatu
raungan rasa saling cengkeram
gejolak langit tak tertahankan
dan embun pun mulai meleleh

saat sore menjelang
kelebatan jingga mengantarku
dengan dua kelopak mata nan sayu
serta segenggam rasa yang mereda

06.09.2008, 01:45AM
*terima kasih buat kang Adi Toha untuk judul puisi ini*