Selasa, 21 Oktober 2008

Mereka Hidup Di Kepala

/1/
kau yang tlah mati, tak benarbenar mati
tapi hanya sembunyi di dalam peti
di sudut kepala bermain sepi

      kau yang tlah lari, tak benarbenar lari
      tapi hanya berkelit dari jeri
      di lembah kelam berharap letih

/2/
kau pikir kau asap,
menggelantang rasa
berharap lepas

      kau pikir kau raga
      tak lekang kan raba
      berharap lega

/3/
kau yang tlah mati, tak bisa menari
karena rasa dan raga tak lagi berduri
dekati surga tanpa bisa kau raba

21.10.2008, 03:46PM 
*sajak ini dibuat berbarengan dengan lagu yang berjudul 42 (Coldplay) didengarkan, dan saya yakin sajak ini terpengaruh olehnya*

Rabu, 15 Oktober 2008

Di Ambang Terbang

(kami dengar Pain of Salvation memainkan Pluvius Aestivus)

seperti gamang jejak pertama

seperti bumi kecil yang gempa

getar getir

kosong pada skala tuan richter

      pada awal denting meredup

      seperti runcing kabut menghasut

      derap petir bergema lembut

seperti leleh hujan batu

menyentuh pucuk-pucuk ngilu

yang telah meluap sedalam dada …

      kelam seiring melebam

      meretas bilahbilah besi

      menyeruput rasa sedalam surga

15.10.2008, 01:55
*kolaborasi Hasan Aspahani & bangwin*

Selasa, 14 Oktober 2008

Kunang-Kunang

matahari kecil
dalam tubuhmu
menggigit mata
menuntun arah

mata kecil
dalam kepalaku
meraba angin
mancari terang

14.10.2008, 05:06PM

Sabtu, 11 Oktober 2008

Seorang Lelaki dan Sejumput Renta

Seorang lelaki makin akrab dengan sejumput renta yang sejak awal ia semai dalam kantung-kantung berpupuk subur tanpa sedikitpun ia sadar bahwa umur dan nafasnya semakin lama semakin merasa nyaman atas kehangatannya dan lalu sedikit-sedikit mencuri waktu hanya untuk bercengkerama dalam kantung renta itu.

Sampai satu saat ia sadar ketika otaknya mulai sedikit demi sedikit membangkang yang mengakibatkan kekuatan dirinya sebagai penguasa tunggal bangunan tubuh yang dipercayakan olehNYA untuk dipergunakan sebaik-baiknya mulai terancam. Begitu lambat reaksi kaki ketika ia ingin melangkah, dan ia curiga bahwa andil otak dalam pembangkangan ini pasti ada sehingga ia mulai tak percaya, tak yakin dan akhirnya tak jalan-jalan.

Di satu sore yang hangat, ketika telah berhasil lelah ia tepis setelah hampir seharian ia mencoba bernegosiasi dengan kaki, tangan, dada, pinggang, dan otak; ada yang aneh, keheningan disertai beban mengganduli tubuhnya. Dingin menjalari urat-urat kaki yang seolah terpaku pada tempat tidur dan mulai merambati satu persatu anggota tubuhnya. Sampai akhirnya ia sadar, pembangkangan telah berubah menjadi pemberontakan. Sorak sorai otak dalam singgasana renta mulai terdengar. Dan ia hanya ditemani oleh sepasang mata yang juga sudah mulai menggigil.

Seorang lelaki yang tadinya sangat akrab dengan sejumput renta mulai menyesal. Karena kini renta yang berkuasa dari dalam kantung-kantung berpupuk subur ingin menyeretnya kembali ke alam. Sedang masih sederet daftar belanja yang harus ia selesaikan.

11.10.2008, 11:54 AM